
OborSulut.com,Manado – Siapa tidak kenal dengan Freddy Harry Sualang. Dia adalah seorang politisi yang berani mengkritik pemerintah di tahun 1980 an hingga akhir 1999. Sejak tahun 1984, Freddy Harry Sualang terpilih menjadi Ketua DPC PDI Minahasa hasil Konferensi Cabang, hak dan aspirasi rakyat selalu disampaikannya kepada pemerintah.
Karena tugas seorang politisi adalah sebagai penyambung informasi dari rakyat ke pemerintah. Apalagi ketika Edy panggilan akrabnya terpilih menjadi anggota DPRD Minahasa di tahun 1987-1992 dan 1992-1997.
Karir politik Edy Sualang dimulai dari simpatisan/kader Parkindo. Setelah fusi pada tangg 10 Januari 1974 (Parkindo, IPKI, Partai Katolik, Murba dan PNI), suami dari Sus Pangemanan itu menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan dipercayakan menjadi Komca PDI Manado Selatan.
Dan ditahun 1982, Edy dipilih menjadi Wakil Sekretaris DPC PDI Minahasa. Dan di tahun 1984 sampai 1994 ( dua periode) ia terpilih Ketua DPC PDI Minahasa. Dan di tahun 1998 Freddy Sualang menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan (PDIP) Sulut.
Di pemilu legislatif tahun 1999 Freddy terpilih menjadi anggota DPRD Sulut, dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD. Dalam pemilihan kepala daerah tahun 2000 (dipilih oleh DPRD), Freddy Sualang yang berpasangan dengan AJ Sondakh terpilih sebagai Wakil Gubernur Sulut (2000-2005).
Dan di tahun 2005 dalam pilkada langsung pasangan Sinyo Harry Sarundajang- Freddy Harry Sualang terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut periode 2005-2010.
Karir politik Freddy Harry Sualang terus menanjak tak terlepas dari keberaniannya menyuarakan aspirasi masyarakat, rekam jejak dan kinerja yang diakui publik. Memang pengalaman Freddy Sualang dalam berorganisasi, pendidikan serta keahlian dalam ilmu sosial sangat menentukan karir politiknya.
Sebagai Ketua PDIP Sulut, ayah dari dr Richard Sualang itu dinilai memiliki gaya kepemimpinan yang mampu melahirkan kader-kader yang berhasil menempati posisi strategis. Bahkan Sualang adalah politisi yang piawai, ulet dan bijaksana serta kritis. Tidak goyah atas godaan maupun ancaman ketika mengkritik pemerintah di era Orde Baru. Hari ini 23 April 2026 kami mantan pengurus PDIP, baik tingkat PAC DPC, DPD, kader dan simpatisan datang berziarah dimakammu.
Masih teringat diingatan kami, ketika engkau masih hidup, setiap tanggal 23 April kami berkumpul dirumahmu untuk merayakan Hari Ulang Tahun. Hari ini kami datang untuk berziarah dan mengenang perjuanganmu. (Adi Palit)




