
OborSulut.com,Tondano — Panggung megah Wale Ne Tou di Kelurahan Wewelen, Tondano Utara, bergemuruh meriah pada Jumat malam (30/10/2026). Ajang pemilihan pariwisata paling bergengsi di tanah Toar Lumimuut, Grand Final Waraney Wulan Minahasa (WWM) 2026, resmi melahirkan dua bintang baru yang akan menjadi representasi generasi muda Minahasa. 
Setelah melalui persaingan ketat yang memukau dewan juri dan penonton, mahkota kebanggaan tersebut akhirnya resmi disematkan kepada Marlon Mawei sebagai Waraney Minahasa 2026 dan Marsha Uhing sebagai Wulan Minahasa 2026.
Kemenangan ini diraih melalui perjuangan panjang. Marlon, yang tampil percaya diri mewakili Dinas Pekerjaan Umum dan PR, Satuan Polisi Pamong Praja, serta Kecamatan Langowan Utara dan Sonder, sukses memikat hati lewat karisma dan visinya.
Sementara itu, Marsha—utusan dari Inspektorat, Dinas Sosial, Kecamatan Pineleng, serta Badan Pendapatan Daerah—tampil cemerlang menaklukkan ketatnya kompetisi berkat ketenangan dan ketajamannya dalam menjawab pertanyaan juri.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Minahasa, Moudy Pangerapan, mengapresiasi kesuksesan perhelatan akbar ini secara keseluruhan. Meski mengakui ada beberapa drama kecil di atas panggung—seperti finalis yang sempat grogi hingga ragu bertanya saat kurang jelas mendengar instruksi—Moudy tetap memuji kualitas para peserta tahun ini.
”Namun dari segi kualitas, mereka sangat bagus sekali,” puji Moudy Pangerapan di penghujung acara.
Bagi Marsha Uhing, gelar Wulan Minahasa 2026 terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Ia tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya atas perjalanan panjang dari tahap seleksi hingga masa karantina yang melelahkan.
“Pertama-tama saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan karena dari seleksi pertama saya sudah berjuang, dan akhirnya di karantina juga saya sudah berusaha dan semuanya lancar,” ungkap Marsha dengan mata berbinar.
Ia mengakui bahwa tekanan mental dan kualitas para pesaing di babak grand final tidaklah main-main. Namun, kombinasi antara rasa percaya diri dan keyakinan spiritual menjadi kunci utamanya menembus batas.
“Marsha merasa percaya diri dan juga yakin bahwa Tuhan pasti menolong. Puji Tuhan, di grand final tadi Marsha dimampukan dan akhirnya bisa keluar sebagai juara,” tambahnya.
Di sisi lain, sang Waraney Minahasa 2026, Marlon Mawei, langsung menatap masa depan dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab besar yang kini berada di pundaknya. Bagi Marlon, gelar ini bukan sekadar piala atau status sosial, melainkan sebuah misi pengabdian.
“Ini adalah tanggung jawab yang besar untuk merangkul anak-anak muda yang ada di Minahasa, supaya mereka lebih mencintai semua hal yang ada di Minahasa, khususnya daerah pariwisata dan budaya Minahasa,” tegas Marlon penuh semangat.
Dengan terpilihnya Marlon dan Marsha, estafet kepemudaan pariwisata Minahasa resmi dimulai. Keduanya kini bersiap mengemban tugas berat namun membanggakan: menjadi garda terdepan dalam mempromosikan pesona alam, adat, dan budaya Minahasa ke kancah yang lebih luas.(red**)




