
OborSulut.com,Kawangkoan – Pelaksanaan Sidang Raya ke-35 Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) yang digelar di Kiawa Resort, Kabupaten Minahasa, mencatatkan sejarah manis dalam hal kerukunan antarumat beragama.
Perhelatan akbar ini tidak hanya menjadi momentum konsolidasi organisasi, tetapi juga menjadi bukti nyata eratnya tali persaudaraan lintas denominasi gereja di wilayah Kiawa Raya.
Ketua PMS KGPM Sola Gratia Kiawa, Gbl. Rolly Irianto Liow, mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan luar biasa dari berbagai pihak, khususnya gereja-gereja di luar KGPM yang dengan tangan terbuka menerima para peserta sidang.
Dalam pelaksanaannya, panitia membagi lokasi sidang komisi di sejumlah gereja di Kiawa Raya. Uniknya, lokasi tersebut tidak terbatas pada gereja KGPM saja.
”Kami sangat bersyukur. Gereja-gereja seperti GMIM Kinamang, GPdI Antiokia, hingga GMIM Zaitun Kiawa membuka diri untuk menerima peserta sidang komisi kami. Komunikasi antar gereja di sini sangat bagus,” ujar Gbl. Rolly.
Semangat kebersamaan ini meluas hingga ke akomodasi peserta. Para delegasi Sidang Raya KGPM diketahui menginap di rumah-rumah penduduk setempat, diterima dengan hangat tanpa memandang latar belakang denominasi gereja, baik itu Katolik, GMIM, GPdI, GESBA, maupun gereja lainnya yang ada di wilayah pelayanan KGPM.
Keberhasilan Sidang Raya ini juga ditopang oleh dukungan solid dari pemerintah dan masyarakat setempat. Mobilitas peserta yang tersebar di wilayah Kiawa, Sonder, Kawangkoan, dan Tompaso difasilitasi dengan bantuan kendaraan dari Pemerintah Kabupaten Minahasa, serta dukungan armada dari gereja-gereja dan aula-aula di Kiawa Raya.
Dari sisi keamanan, penyelenggaraan Sidang Raya ini menciptakan pemandangan unik di mana organisasi Pria Kaum Bapak lintas gereja bersatu padu menjaga kondusivitas acara.
”Keamanan di sini terjamin karena melibatkan kolaborasi antara Perisai KGPM, Panji Yosua (GMIM), Laskar Gideon (GPdI), dan Legium Christum (Katolik). Mereka berpadu dalam satu tanggung jawab pengamanan, dibantu juga oleh aparat dari Polsek dan Polres Minahasa,” tambah Gbl. Rolly.
Di balik semarak kerukunan yang tercipta, Sidang Raya ini memiliki agenda strategis yang krusial bagi masa depan KGPM. Gbl. Rolly menjelaskan bahwa para peserta fokus membahas pembaruan peraturan gereja agar tetap relevan dengan tantangan pelayanan di masa depan.
”Tujuan utama kami adalah membahas keputusan-keputusan strategis terkait peraturan gereja, agar ke depannya pelayanan KGPM semakin relevan, efektif, dan mampu menjawab kebutuhan jemaat di tengah dinamika zaman,” pungkasnya.
Sidang Raya ke-35 KGPM ini menjadi bukti kuat bahwa semangat “Torang Samua Basudara” bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup yang nyata di tengah masyarakat Minahasa.(her)




